Senin, 12 Juli 2021

Rindu Baitullah Meski Belum Pernah Bertemu




لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لَاشَرِيْكَ لَكَ

Labbaikallahumma labbaik, labbaika la syarikalaka labbaik, innal hamda wan ni’mata laka wal mula la syarika lak.

Tak terasa air mata jatuh saat mendengar lantunan doa talbiyah ini. Dimanapun berada tiap lihat youtube orang-orang yang sedang umroh atau haji  dan mendengar doa talbiyah ini pasti air mata langsung jatuh. Aaaaaah rasanya aku begitu merindukan Baitullah, rasanya aku begitu merindukan Ka'bah dan bisa tawaf mengelilinginya. Doa-doa dan sujud-sujud panjang bukti betapa aku begitu merindukannya meski belum pernah menginjakkan kaki ke sana.


Sering kubayangkan saat masih muda dan belum menikah betapa bahagianya orang yang bisa menunaikan rukun Islam kelima ini. Betapa beruntungnya orang yang bisa menginjakkan kaki ke sana. Dan Allah mengabulkan doaku.  Awal menikah meski belum pernah ke sana paling tidak pernah melihat sinar kebahagiaan Bapak dan Ibu mertua yang kami berangkatkan ke sana. Awal menikah meski tidak berlebihan alhamdulilah bisa memberangkatkan Bapak mertua berangkat haji dan empat tahun berikutnya memberangkatkan  Ibu mertua. Sekarang beliau berdua sudah almarhum. Namun kami bersyukur sudah pernah mewujudkan  cita-cita  Bapak dan Ibu mertua melihat Baitullah. 



Cita-Cita Menunaikan Ibadah Umroh 

Kalau ada yang bertanya apa cita-citaku pasti cita-citanya adalah umroh. Keinginan yang begitu kuat dan tertanam sejak 10 tahun lalu. Keinginan yang semakin kuat saat melihat satu persatu teman dekat dan sahabat menjalankan umroh. Saat kuutarakan keinginan itu pada suami bahwa aku ingin menginjakkan kaki di Baitullah dan umroh jawaban suami membuat sedih. Nanti ya umrohnya belakangan kalau kita ada rejeki, kita nabung dulu untuk menunaikan haji yang wajib. Huhuhu...rasanya sedih banget. Tapi jika dipikir-pikir ada benarnya juga, Jadilah kita menabung untuk berhaji. Umroh masih menjadi keinginan terpendam yang entah kapan terwujudnya. Namun cita-cita umroh selalu terpatri di hati.

" Nung, doakan aku ya 2 minggu lagi aku umroh",  kata sahabatku melalui pesan singkat.

"Ya Dor, doakan aku segera menyusul ya dan doakan aku disana", kataku.

" Nung minta doanya dan mohon maaf ya aku bulan depan mau berangkat haji", sebuah pesan singkat di lain waktu dari sahabatku yang lain masuk ke hp ku.

" Iya Ana, semoga hajinya mabrur ya. Doakan aku juga segera menyusul kesana ya", jawabku.

" Mbak Nung aku mau berangkat umroh yang ketiga, minta doanya ya",  kata Nanda sahabat yang sudah menganggap aku kakaknya.

Dan begitulah selama 10 tahun terakhir ini pesan dari sahabat-sahabat dekat baik yang mau berangkat haji atau umroh selalu mampir ke hp ku. Rasa haru dan doa selalu kusematkan untuk teman-temanku yang berangkat disertai titipan doa agar aku bisa segera menyusul ke sana. Dan mereka benar-benar mendoakan aku di sana. Suatu hal yang membuatku terharu. Bahkan tiap ada mama temen anakku yang mau umroh pun aku juga minta doanya. Selalu terharu saat mereka benar-benar mengirimkan fotonya yang ada namaku di depan kabah. Suatu hal yang kuyakini kalau suatu hari aku pun akan menginjakkan kaki di sana.


Foto kiriman dari temen yang umroh dan doain aku segera nyusul



Ridho Suami  Segalanya 

Ada saat dimana keinginan umroh itu begitu menggebu-gebu. Semua undian umroh aku ikuti, semua event yang berhadiah umroh aku datangi dan  berharap namaku disebut saat undian dilakukan. Nyatanya mungkin Allah belum mengijinkanku ke sana dan ya nggak menang juga meskipun semua usaha ikut undian kulakukan. 

Suatu hari di tahun 2016, tetangga mengajak umroh hanya dengan biaya 5 juta sisanya bisa dicicil perbulan selama 9 bulan. Waaah aku langsung berbinar-binar. Segera kuutarakan pada pak suami kalau aku ingin ikut umroh. Biayanya murah dan bisa dicicil. Qadarullah saat itu suami gak ngijinin. Alasannya haji dulu baru umroh. Wajib dulu baru sunnah plus alasan daripada buat umroh mending buat bantu orang lain uangnya. Hal itu menjadi alasan pak suami melarangku daftar umroh bersama tetangga. Saat itu kami sudah mendaftar haji tapi kan antriannya masih panjang. Meski nangis-nangis sedih akhirnya nurut juga kata suami. Aku percaya ridho suami itu segalanya meski sekuaaaat apapun keinginanku untuk pergi umroh. 

Terbukti nurut suami itu ada benarnya, tetangga -tetangga nggak jadi umroh dan uangnya hilang. Andai saat itu aku 'ngeyel' dan keukeh ingin ikut umroh dan nggak nurut suami pasti aku akan merasakan kekecewaan yang sama. Jadi aku percaya ridho suami segalanya. Sejak saat itu keinginan umroh kukubur dalam-dalam dan tidak menggebu-gebu seperti tahun-tahun sebelumnya.


Memberangkatkan Umroh Dhuafa

Keinginan umroh masih ada dan selalu nangis jika melihat gambar Ka'bah. Aku percaya kalau suatu hari nanti aku pasti akan ke sana. Entah kapan waktunya dan entah kapan Allah menjinkan dan memberi jalan aku ke sana. Namun satu yang pasti meski bukan aku sendiri yang berangkat, aku sangat ingin memberangkatkan orang-orang terutama dhuafa yang mempunyai keinginan yang sama denganku.  Ada kebahagiaan seandainya aku bisa memberangkatkan mereka umroh meski lewat tulisan. 

Tahun 2018 saat ada kesempatan menuliskan impian mereka untuk berangkat umroh aku menulis sosok Bang Bogel, tukang becak di komplekku yang ingin berangkat umroh. Air mata mengalir dan aku menangis tak henti-henti saat aku ditelpon kalau tulisanku masuk finalis dan aku harus mengurus surat tidak mampu untuk bang Bogel. Rona kebahagiaan memancar dari wajahnya. Sungguh aku begitu terharu. Namun betapa hancurnya saat hari pengumuman namanya sama sekali nggak ada di finalis. Terbata-bata aku menyampaikan hal ini pada Bang Bogel. Tidak tega melihat wajahnya yang penuh harapan.

Setahun kemudian tulisanku tentang keinginan Bang Bogel umroh ditemukan secara tidak sengaja oleh  salah satu stasiun televisi. Mereka menelepon dan meminta untuk wawancara. Selanjutnya mereka datang ke rumah sampai dua kali untuk shooting Bang Bogel. Katanya ada harapan mimpi Bang Bogel diwujudkan stasiun televisi tersebut.  Syaratnya selain syuting di sekitar tempat tinggalku saat mengayuh becak  dan kegiatan sehari-harinya, dia juga harus syuting di studio di hari yang ditentukan bersamaku.

Haru tak terkira menyelimuti aku dan Bang Bogel. Rasanya sebentar lagi aku bisa mewujudkan mimpinya. Aku tahu bagaimana rasanya menahan rindu ke Baitullah karena aku pun sangat ingin ke sana. Jadi aku mengusahakan beliau bisa pergi ke sana melalui tulisanku.

Manusia berkehendak Allah yang menentukan. Ternyata seminggu sebelum syuting di studio aku ditelpon kalau acaranya dibatalkan. Astagfirullah.....bahkan menangis pun aku sudah tak sanggup. Perjuangan ditelpon, bolak balik wawancara melalui telpon dan dua kali ke rumah rasanya sia-sia. Yang pasti aku sedih banget sudah dua kali mengecewakan Bang Bogel untuk pergi umroh. Rasanya seperti memberi harapan palsu. Sudah di depan mata dan tidak jadi. Untungnya beliau berhati besar. Katanya mungkin belum rejeki saya Mbak Nunung. Terima kasih atas perjuangannya dua tahun untuk mengumrohkan saya meski gagal. Hiks...

Keinginan umroh masih ada di dada. Namun sadar diri belum ada dana , aku berusaha mengumrohkan orang lain melalui tulisan. Kali ini aku menulis tentang Bu Yuni guru mengaji TPA untuk kaum dhuafa. Aku salut atas perjuangan beliau. Tulisan tentang Bu Yuni bisa dibaca di sini.

Alhamdulilah Bu Yuni bisa masuk finalis. Karena kali ini sistemnya vote untuk masuk kriteria yang diumrohkan akhirnya aku bikin give away buat yang mau vote Bu Yuni. Aku tidak ingin melihat wajah kecewa Bu Yuni seperti aku melihat wajah kecewa Bang Bogel. Jadi aku ingin berjuang sampai titik darah penghabisan. Mengadakan give away berhadiah pulsa, setiap hari whats app teman-teman di group, saudara, kerabat semua kulakukan.  Alhamdulilah setelah melalui perjuangan panjang dan bantuan teman-teman baik yang sangat support dan mendukung vote akhirnya Bu Yuni bisa menjadi salah satu orang yang bisa berangkat umroh. Sujud syukur kupanjatkan.

Bahagia rasanya melihat orang-orang yang ingin umroh bisa umroh melalui tulisanku. Rasanyaa tak terucapkan. Haru, bahagia dan senang menjadi satu. Meski aku sendiri belum bisa umroh, paling tidak melalui tulisanku aku bisa membantu mereka. Ada kebahagiaan tersendiri saat melihat mereka menggapai impiannya untuk bertamu ke rumahNya.

Rindu Baitullah 

"Ngapain sih Bu bilang rindu Baitullah mulu. Ibu kan belum pernah ke sana? Pakai acara nangis lagi kalau lihat gambar Mekah sama denger Labbaik" , kata anakku. 

"Nggak papa Le ( panggilan anak laki dalam Bahasa Jawa) siapa tahu suatu saat nanti ibu bisa pergi kesana. Entah seperti apa jalannya", kataku.

Labbaikallahumma labbaik, 

labbaika la syarikalaka labbaik, 

innal hamda wan ni’mata laka wal mula la syarika lak.

Sebentar lagi musim haji tiba, dan aku pasti akan sering mendengar kalimat talbiyah ini melalui siaran streaming televisi. Aaaaah rinduku semakin tak tertahankan ingin segera bertamu ke rumahMu. kalaupun antrian haji masih panjang, ijinkan hambamu ini pergi umroh terlebih dahulu ya Allah. Entah bagaimanapun caranya. 

Dan dalam sujud-sujud panjangku untaian doa mengalir. Siapa tahu aku bisa pergi ke rumahNya untuk umroh sebelum berhaji suatu hari nanti. Tak lupa menyimpan gambar Ka'bah di dompet sebagai penyemangat diri. Doain ya teman-teman semoga suatu hari nanti kita bisa berkunjung ke rumahNya. Aamiin......


34 komentar:

  1. Wah mba aku pun rinduuu, masyaAllaah mudahmudahan kita dimampukan untuk pergi kesana ya mba. Aamiin.

    BalasHapus
  2. Siapa pun pasti merasakan kerinduan yang sama mengenai Baitullah. Bahkan membaca kerinduan orang lain mampu membuat dada sesak karena tersentuh dengan kerinduan tersebut. Semoga dimudahkan segala niat baik. Hingga kita bisa bersama menginjakkan kaki menghadirkan diri memenuhi kerinduan untuk menunaikan rukun islam kelima itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung bisa bertamu ke rumahNya suatu hari nanti ya Mbak Yuni. Aamiin..

      Hapus
  3. bsrsyukur Mbak alhamdulillah sudah dapat antrian haji meski masih lama. saya dan suami masih berusaha menabung utk bisa daftar haji.

    BalasHapus
  4. Masya Allah mba Nung, i feel you.. Kerinduan pada sesuatu yang bahkan belum pernah kita jumpai. Untaian doa dan sujud panjang memohon agar bisa menjadi tamu Nya. Menginjakkan kaki di bumi para nabi. Suatu hari insya Allah. Tahun kemarin, dan tahun ini ibu dan bapak mertua saya gagal lagi berangkat haji. Sedih sekali rasanya. Sungguh pilu..
    Doakan ya mbaa, doa kita bersama, bisa ke sana suatu hari nanti atas ijin Allah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ...terima kasih Mbak Lintang doanya. Semoga some day kita bisa mengunjungi Baitullah ya Mbak.

      Ikut merasakan kesedihan bapak dan ibu mertua yang 2 tahun gagal berangkat. Semoga covid segera usai dan tahun depan bapak ibu diberi kesehatan dan bisa melaksanakan ibadah haji yang tertunda ya Mbak.

      Hapus
  5. Wah, ikut berkaca-kaca mbak saya membacanya.. Semoga diijabah, bisa segera ke Baitullah... Aamiin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin terima kasih Mbak Sapti doanya. Bahkan menuliskannya pun saya berkaca kaca dan terharu sendiri Mbak.

      Hapus
  6. Setiap Muslim pasti pengen banget untuk bisa pergi ke Baitulloh. Semoga kita semua yang belum pernah ke Mekkah, bisa terwujud untuk mengunjunginya ya, aaamiiin....

    BalasHapus
  7. Terharu membacanyaaa. Semoga segera diperkenankaan bertamu ke rumah Allah ya mba <3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiiin...semoga Allah berkenan mengundang kita ke RumahNya ya Mbak Kiky.

      Hapus
  8. Sama-sama mendoakan kita ya mbak, Insya Allah diberi kesempatan untuk beribadah umroh, mengunjungi baitullah memang pantas dijadikan cita-cita indah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa..cita-cita sepuluh tahun terakhir ini adalah Umroh. Semoga nanti ada jalanNya ya mbak.

      Hapus
  9. ahh iya mbak
    saya juga rindu banget sama baitullah meski blm pernah ketemu
    semoga kita semua diberi kemudahan untuk bisa jadi tamu Allah ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiiin....rasa rindu ini begitu kuat Mbak. Sering nangis padahal belum pernah ketemu

      Hapus
  10. ya Allah kak saya merembes bacanya,semoga kita semua bisa segera mengunjungi batullah yang indah dan suci ya kak, dan semoga saya bsia memberangkatkan ibadah haji orangtua saya secepatnya aamiin allahuma aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...aamin...siapapun yang merindukan RumahNya pasti akan menangis kalau dengar kata Baitullah. Semoga kita nanti menjadi orang orang terpilih yang berkesempatan mengunjunginya ya mbak.

      Hapus
  11. Keinginan MB dan rasa rindu Baitullah sama MB denganku. Juga sama2 pernah memberangkatkan umroh orang dengan tulisan. Semoga kita suatu saat bisa datang ke rumah Allah ya...Aamiin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiiin Mbak Erny. Semoga nanti giliran kita bisa ke sana ya Mbak

      Hapus
  12. Wiwin | pratiwanggini.net15 Juli 2021 21.46

    Aamiin..
    Sama, mba, saya juga belum pernah kesana. Semoga suatu hari nanti saya bisa beribadah di sana (umroh atau haji).

    BalasHapus
  13. masyaa Allah mbaa.. aku juga rindu ke sana. dulu ke sana waktu masih belum menikah, dapat biaya dari ortu. sekarang ada juga cita2 untuk bawa ortu ke sana meski entah kapan. semoga saja Allah mampukan dan bantu pantaskan kita yaa aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...Ya Allah mbak apalagi sudah pernah ke sana. Pasti selalu rindu ke sana lagi ya Mbak. Semoga Mbak Nabila bisa ajak kedua ortu juga yaa..

      Hapus
  14. Semoga keinginan kita semua bisa ke baitullah dan pandemi ini bisa pergi ke sana

    BalasHapus
  15. Amiin, semoga dimudahkan ya Mbak. Saya juga menyimpan kerinduan yang sama. Suami sudah ke sana saat anak-anak masih bayi. Rasa-rasanya saya juga ingin segera ke sana. Tapi penginnya barengan sama anak-anak. Bismillah, semoga diijabah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bismillah....semoga bisa sekeluarga bisa umroh bareng ya Mbak Damar

      Hapus
  16. Bagi umat islam, destinasi paling diharapkn srkligus dirindukan, ya pasti ka'bah ya kak.

    Namun jika Allah belum berkehendak, bisa apa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya , mbak semua memang kehendak Allah. Terkadang ada kehendak Allah yang tak dapat kita pahami. Seperti Bang Bogel yang udah lebih dari separo jalan nggak jadi berangkat. Tapi pasti yakin ada sesuatu hal yang Allah siapkan untuk orang yang sabar.

      Kewajiban kita sebagai umatnya hanyalah berdoa. Siapa tau Allah mengabulkan doa kita. Terkadang kita tidak tahu dari mulut yang mana Allah mengabulkan doa kita . Bisa jadi bukan dari kita sendiri. Tapi dari orang-orang yang mendoakan. Tapi tidak pernah putus doa agar suatu hari bisa ke rumahNya.

      Hapus
  17. Insyaallah disegerakan sahabatku 😚😚😚 terharu namaku ada di tulisanmu 😍😍😍😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiiin. Terima kasih doanya Ana. Terima kasih juga empat kali ke sana buat haji dan unroh dan selalu mendoakanku 😘😘

      Hapus

Pengalaman Vaksin Sinovac Pertama dan Efek Sampingnya

Selamat Hari Raya Idul Adha ya teman-teman. Meski Idul Adha kali ini berbeda dengan biasanya. Yup.... kita melaksanakan sholat Idul Adha di ...