Rabu, 04 Oktober 2023

Alfira Oktaviani, Penggagas Ecoprint Kain Lantung

Gaya hidup berkelanjutan atau yang bisa disebut sustainable lifestyle sedang marak belakangan ini. Kesadaran masyarakat untuk lebih bijak dalam beraktivitas agar tidak merusak lingkungan memotivasi untuk memilih bahan-bahan yang ramah lingkungan sebagai bahan makanan dan sandang, memanfaatkan bahan-bahan bekas atau bahan yang ramah lingkungan dalam setiap sendi aktivitas. Salah satu brand fashion yang memperkenalkan busana ecofashion adalah Semilir Ecoprint yang diinisiasi oleh Alfira Oktaviani.

 

Semilir, Trend Eco Fashion yang Ramah Lingkungan
 

Semilir Ecoprint dapat disebut sebagai ikon dalam industry sustainable fashion di Indonesia. Proses pembuatan Semilir Ecoprint menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan. Bahan dedaunan menjadi ciri khas brand yang menonjol dalam gaya hidup berkesinambungan. Motif-motif Semilir Ecoprint yang unik dan mengangkat warisan budaya Indonesia merupakan alasan Semilir patut dibanggakan.

Salah satu keunggulan Semilir adalah penggunaan kulit kayu lantung Bengkulu dalam proses ecoprint. Sebelumnya mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa Bengkulu memiliki kayu khas asli daerahnya. Bahkan kulit kayunya dapat dimanfaatkan untuk menciptakan karya seni fashion yang unik, cantik sekaligus ramah lingkungan.


sumber : IG  semilir_ecoprint



Semilir Ecoprint mulai dikenal masyarakat di akhir tahun 2018. Alfira Oktaviani, atau yang biasa disapa sebagai Fira bereksperimen membuat brand Semilir sejak awal tahun 2018. Kerja kerasnya selama setahun menghasilkan karya fashion yang elegan dan menarik perhatian masyarakat pecinta adibusana.


Ditinjau dari sejarahnya, kain lantung khas Bengkulu mulai dikenal masyarakat Bengkulu di zaman Jepang. Kain lantung ini semula hanya berupa semacam kain penutup kepala yang digunakan membawa barang dagangan ke pasar atau hasil kebun ke rumah. Ketika masa penjajahan Jepang dan kehidupan masyarakat semakin sulit, kebutuhan akan sandang dan pangan kiat menghimpit, maka kain lantung mulai digunakan sebagai kain bahan pakaian, selimut dan sarung.

Kulit kayu Lantung berasal dari pohon Trap dengan nama ilmiah Artocarpus Ertalicus. Pohon Trap adalah pohon jenis sukun-sukunan, yang mempunyai getah sehingga tidak mudah rusak dan bisa digunakan layaknya benang dan dijadikan kain. Nama Lantung ini berasal dari proses pembuatannya. Kulit-kulit kayu yang dikelupas dari inti batang kayu dipukul-pukul sehingga mengeluarkan bunyi tung..tung..tung.

Kain Lantung terkesan sebagai kain yang sederhana. Harganya pun hanya sekitar lima ribu rupiah per lembarnya. Fira tergerak untuk meningkatkan value kain khas Bengkulu ini dalam bentuk busana ecoprint.

 

Mengenal Alfira Oktaviani Lebih Dekat
 

Ketika Alfira Oktaviani diberitakan berbagai media massa sebagai salah satu penerima apresiasi Satu Indonesia Awards 2022 dalam bidang kewirausahaan dengan mengusung Lantung Bengkulu dengan Keindahan Ecoprint, sebagian besar masyarakat mengira bahwa Fira memiliki latar belakang Pendidikan yang berkaitan dengan desainer dan fashion. Namun Fira ternyata adalah seorang apoteker dan ia berasal dari Yogyakarta. Bagaimana Fira bisa menggeluti kain lantung khas Bengkulu? Kisahnya bermula ketika saat pulang kampung, ayah Fira yang asli Bengkulu melontarkan tantangan kepadanya untuk meningkatkan value kain souvenir khas Bengkulu ini. Maka ide membuat busana Ecoprint berbahan dasar kain Lantung menjadi pilihan Fira.


Sumber : IG semilir_ecoprint



Di awal-awal memperkenalkan ecoprint kain Lantung Fira menghadapi berbagai tantangan namun juga menerima apresiasi dari masyarakat yang luar biasa. Ecoprint merupakan hal baru bagi sebagian besar masyarakat saat itu, ketertarikan masyarakat Bengkulu semakin besar karena mengeksplorasi kain khas daerahnya. Masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fira dihabiskan untuk mengedukasi dan memberikan pelatihan mengenai ecoprint dari kain Lantung. Pelatihan dan bimbingan yang diberikan Fira dan kawan-kawannya dimulai dari informasi dan teknik dasar hingga proses pengolahan dan prospek pemasaran.

Perjuangan Fira dan kawan-kawannya memperkenalkan ecoprint kain Lantung butuh waktu yang tidak sebentar namun hasilnya cukup memuaskan. Pada tahun 2020 tim Semilir dinyatakan lolos Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) berkat upayanya mengeksplorasi Lantung dan mengedukasi masyarakat tentang ecoprint Lantung. Apresiasi FBK berupa bantuan pemerintah dalam bentuk dana binaan. Tim Semilir Ecoprint merupakan salah satu komunitas yang dianugerahi apresiasi FBK berkat sumbangsihnya dalam melestarikan warisan budaya bangsa. Oleh Tim Semilir Ecoprint dana bantuan tersebut dimanfaatkan untuk terus berkarya, menggali sejarah dan dokumentasi serta peningkatan kualitas kain Lantung.

 

Semilir Ecoprint menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Berkolaborasi dengan mahasiswa Institut Seni Indonesia, Semilir Ecoprint rintisan Alfira Oktaviani ini juga memanfaatkan media daun jati dalam pembuatan Ecoprint. Tas BETA merupakan produk Ecoprint hasil kolaborasi Semilir dan anak-anak ISI yang dikenal mendunia. Kolaborasi ini terkenal mendukung kampanya konservasi hewan kukang Jawa. Sebagian keuntungan penjualan Tas Beta disumbangkan untuk konservasi kukang Jawa dan satwa liar lain yang terancam punah yang berada di hutan Kemuning, Temanggung, Jawa Tengah.

Alfira Oktaviani merupakan contoh generasi muda yang peduli terhadap lingkungan hidup dan pelestarian budaya warisan bangsa. Semoga di masa depan jejak langkah inspiratif Alfira Oktaviani dalam melestarikan budaya bangsa dan menunjang gaya hidup berkesinambungan ini memotivasi para penggerak di kalangan anak muda untuk berbuat kebaikan secara konsisten dan tak kunjung padam.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar