Selasa, 04 April 2023

(Turki part 7) Melintasi Dua Benua di Selat Bosphorus

Hari sudah siang saat kami meninggalkan Masjid Sultan Ahmed. Kami bertolak ke tujuan berikutnya yaitu Selat Bosphorus.  Kami akan menyusuri indahnya Selat Bosphorus. Pukul tiga kurang dikit kami sudah sampai.

Tampak beberapa kapal pesiar di sini. Berjajar kapal-kapal pesiar seperti di kepulauan seribu. Kami segera menuju kapal kami. 

Bosphorus adalah sebuah selat yang memisahkan Turki bagian Eropa dan bagian Asia, menghubungkan Laut Marmara dengan Laut Hitam. Bosphorus dalam bahasa Turki disebut Bogazici, yang berarti “selat bagian dalam”.

Selat ini memiliki panjang 30 km dengan lebar maksimum 3.700 meter pada bagian utara, dan minimum 750 meter antara Anadoluhisari dan Rumelihisari. Kedalamannya bervariasi antara 36 sampai 124 meter. Tepian selat ini berpenduduk padat, salah satu kotanya adalah Istanbul.

Ada dua jembatan yang menyeberangi Selat Bosphorus, yang pertama adalah Jembatan Bosphorus memiliki panjang 1.074 meter dan diselesaikan pada 1973. Yang kedua, Jembatan Fatih Sultan Mehmet dengan panjang 1.090 meter dan diselesaikan pada 1988 sekitar 5 km sebelah utara jembatan pertama.

Saat kami sampai di geladak kapal , pemandangan indah langsung terpampang di depan mata. Subhanallah....sungguh indah ciptaanMu. Laut biru, bangunan-bangunan tua dan ikonik di kejauhan dan burung-burung Camar yang beterbangan menambah indahnya perjalanan ini. Mulut berdecak tak henti menyebut AsmaNya. 




Aku pernah menyusuri kanal-kanal di Belanda, pernah menyusuri Sungai Seine di Paris dengan cruise juga, tapi pemandangan di Selat Bhosporus ini mengalahkannya. Masya Allah sungguh indah.



Saat masih di Jakarta,  dari salah satu abi di Hisar aku sudah dapat bocoran kalau ke sini bawa roti buat makan burung-burung biar pada mendekat. Makanya saat sarapan pertama kali di Salacak Donercisi aku sempetin untuk bawa beberapa roti dan kusimpan di tas. Kebetulan meski roti di Turku kelihatan besar-besar dan menggoda, namun sebenarnya nggak ada rasanya. Jadi saat sarapan rotinya tidak kumakan dan kusimpan di tas. Sengaja kubawa buat makan burung  di Bosphorus nanti.

Dan taraaaa beneran. Saat kami menyusuri Bosphorus banyak burung Camar. Dan saat aku berikan remahan roti mereka mendekat untuk makan roti tersebut. Tahun aku membawa roti beberapa jamaah meminta rotiku dan ikut kasih makan burung. Indah sekali saat melihat burung-burung tersebut mendekat dan memakan roti.

Angin berhembus semakin kencang. Aku merapatkan jaket. Kali ini aku pinjam jaket ibu alias tukeran karena jaketku yang ketinggalan di cerita sebelumnya. Meski terasa dingin namun pemandangan  Istana Dolmabahce,  Topkapi di Maiden Tower, Masjid Ortakรถy serta taman, perumahan, dan hotel-restoran di tepi laut seolah menyihirku dan membuatku bertahan meski dingin. 



Seorang gadis Turki dengan membawa kamera besar tiba-tiba datang. Dan dia mulai memfoto beberapa orang diantara kami. Lama-lama semua jamaah di foto dengan berbagai gaya. Jika mereka keluarga mereka difoto satu keluarga.  Wah asyik nih difoto fotografer profesional . Awalnya aku mengira ini adalah bagian dari service kapal. Dan aku baru tau beberapa saat kemudian saat kami tour kami mau selesai. Ternyata foto-foto itu dicetak dan kami harus membelinya. Yaah sama kayak di Indonesia saat ada wisuda.  Fotografer main jeprat jepret dan nanti dicetak dan dibungkus plastic trus kita disuruh beli.Hihihi...

Bedanya dengan foto wisuda tadi, ini foto keren banget soalnya foto sedang berlayar di Bosphorus.  Trus kalau di Indonesia dibungkus plastik , kali ini dikasih semacam pigura. Harganya 250 ribu untuk tiga buah foto ukuran 10 R kalau nggak salah. Namun hanya beberapa jamaah yang beli fotonya. Sebagian sudah habis liranya karena Bosphorus adalah tujuan terakhir kami di Turki.

Angin semakin dingin,  beberapa jamaah pindah ke bawah yang tertutup.  Ada beberapa meja dan  kursi di kapal bagian bawah. Beberapa memilih bertahan dan beli kopi untuk menghangatkan badan. Oya di atas ini kita bisa beli kopi lho. Soalnya ada semacam cafe kecil diatas geladak. Setelah kaos tangan dan jaket tidak lagi bisa  menahan hawa dingin aku memilih turun. 

Dan tour wisata selama sejam ini selesai sudah. Dengan banyak kenangan di hati para jamaah.  Gatel banget pengin share foto keren-keren diatas kapal. Tapi karena fotonya rame-rame dan aku menghargai privacy jamaah, jadi gak bisa main share ya teman-teman. 

Semoga some day teman-teman bisa menyusuri selat Bosphorus juga yaa. Oke deh sampai sini dulu. Sampai bertemu di catatan perjalanan berikutnya. 

2 komentar:

  1. Kemarin aku juga include naik cruise di Bosphorus. Tapi dari travelnya, 1 Cruise itu dibook hanya ada rombongan kami aja. Jadi ga ada si fotographer berbayar ๐Ÿ˜…

    Naah aku takjub Ama yg fotographer berbayar ini, Krn pas di hotel di Pamukkale, pas LG makan di restoran ada yg motretin juga mba. Tapi aku udh tau ini berbayar, dan ga tertarik beli juga. Krn aku pikir cuma diplastikin biasa fotonya, ternyata dibikin pigura yg baguuus banget. Nyeseeeel sumpah.cuma USD 20 doang lagi . Cuma yaaaa, kalo semua foto dibikin begitu, dan ga ada yg beli, mereka ga rugi apa ๐Ÿ˜…. Baguuus soalnya.

    Aku seneng bgt pas bisa ke selat Bosphorus naik kapal. Krn 2010 dulu ga naik cruisenya. Tapi Krn kemarin masih winter dan angin kenceng luar biasa, aku ga kuat juga sih. Beku tangan. Jadi abis foto2, LGS turun ke bawah ngopi Ama yg lain ๐Ÿ˜„

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini kami juga satu cruise rombongan kami doang. Tapi emang ada fotografernya mbak . Adanya di ruangan bawah. Jadi aku kira ya bagian dari cruisenya.

      Iya aku mikirnya apa mereka gak rugi ya. Yang beli kemarin cuma 4 jamaah dari puluhan foto. Bahkan saat gak laku, kita dikasih soft copy nya loh lewat travel guide nya.

      Hapus