Senin, 09 Oktober 2023

Ritno Kurniawan, Sang Pengubah Pembalak Liar Menjadi Pemandu Wisata yang Cinta Lingkungan

Pembalakan liar telah menjadi salah satu permasalahan serius bagi upaya pelestarian dan konservasi hutan di Indonesia. Manusia dan hutan tidak dapat dipisahkan. Manusia sangat tergantung pada hutan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Hutan menjadi andalan manusia dalam eksplorasinya yang berupa kayu, getah, daun, kulit batang pohon dan berbagai hasil hutan lainnya. Tak jarang manusia harus mengalihfungsikan hutan sebagai lahan perkebunan dan pertanian, pembalakan liar meraja lela. Terbukti bahwa keberadaan hutan sangat dipengaruhi perilaku manusia. Jika manusia terlalu serakah dan mengeksplorasi hasil hutan tanpa tindakan konservasi dapat dipastikan hutan akan musnah.

Di sisi lain pembalak liar yang sangat tergantung pada hutan akan kesulitan menemukan mata pencaharian jika hanya dilarang tetapi tidak ditawarkan jalan keluar. Hal yang pelik ini menarik perhatian Ritno Kurniawan, sosok pemuda dari Padang Pariaman untuk mengajak para pembalak liar menghentikan aktivitas merusak hutan namun sekaligus mengupayakan jalan keluar agar para pembalak liar tetap punya penghasilan sebagai pemandu wisata.

 Perjuangan Ritno Kurniawan Membuka Obyek Wisata

Tidak banyak anak-anak muda yang merantau menuntut ilmu kemudian kembali ke kampung halaman dan membuka lapangan pekerjaan. Ritno Kurniawan adalah satu dari sekian pemuda yang memutuskan kembali demi membangun kampung halaman usai menuntaskan Pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Gajahmada Yogyakarta. Kecintaannya pada lingkungan sejak masih duduk di bangku kuliah menggugah keresahannya menyaksikan aktivitas pembalakan liar di kampung halamannya masih menjadi warisan turun temurun.

Sumber: IG Ritno Kurniawan


Ritno mengakui bahwa warisan ini sedikit banyak dipengaruhi oleh filosofi masyarakat Padang Pariaman sekitarnya. "Di laut orang makan ikan, di hutan orang makan kayu” Filosofi ini seolah menjadi pembenaran bahwa masyarakat bisa mengeksloprasi hutan semaksimal mungkin. Menurut pengamatan Rinto setiap hari setidaknya 10-15 batang kayu Hutan Gamaran ditebang para pembalak untuk dijual demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Masyarakat tak peduli meski Hutan Gamaran adalah kawasan hutan lindung dan termasuk wilayah adat. Pembalakan liar yang terjadi secara masif ini menyebabkan bencana alam berupa banjir bandang yang menimpa tempat pemukiman warga dan lahan pertanian di sekitar Hutan Gamaran.

Sebagai pemuda yang berbekal ilmu pengetahuan dan pecinta lingkungan Ritno berpikir keras mengatasi permasalahan yang dihadapi kampung halamannya. Suatu hari Ritno melakukan hiking di hutan dan menyaksikan keindahan air terjun Nyarai. Ritno merasa bahwa air terjun nyarai layak dikembangkan menjadi obyek wisata. Ia yakin jika air terjun ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan infrastruktur dan dikelola secara professional pasti bisa menjadi tujuan wisata andalan Padang Pariaman.

Sumber : IG Ritno Kurniawan


Perjuangan Ritno mengangkat potensi wisata air terjun Nyarai bukan tanpa hambatan. Niatnya mempromosikan Nyarai ditentang masyarakat sekitar sebab air sungai yang tersambung dengan air terjun biasa dipakai sebagai sarana transportasi untuk membawa kayu gelondongan hasil hutan.

Ritno pantang menyerah. Pemuda kelahiran Bukitinggi ini merangkul tokoh-tokoh adat dan pemerintah setempat. Jalan menuju lokasi air terjun melalui wilayah kekuasan tujuh kelompok suku sehingga ia harus memperoleh izin dari para tokoh adat. Ketika izin dari para tokoh adat didapat, pada tahun 2013 Ritno dibantu beberapa penduduk mulai membangun infrastruktur menuju air terjun Nyarai. Jalan setapak bermedan sulit pun menjadi lebih ramah bagi pejalan kaki setelah dibenahi. Namun tidak semua masyarakat mendukung pekerjaan Ritno dan kawan-kawan. Sekelompok orang bersenjata parang sempat mendatangi rapat Ritno dengan dan mengancam mereka untuk menghentikan pekerjaannya. Meski tidak terjadi bentrokan dan huru-hara yang mengerikan kejadian tersebut cukup mencekam, namun tidak berarti Ritno surut langkah. Ia melanjutkan membangun fasilitas toilet sederhana dan posko untuk penjualan tiket masuk. Ketika beberapa fasilitas sederhana telah berdiri, Ritno mempromosikan obyek wisata Air Terjun Nyarai di media sosialnya.

Air Terjun Nyarai Menjadi Sumber Kehidupan

Kerja keras Ritno mulai menunjukkan hasil. Para wisatawan pun mulai ramai berkunjung. Tiket masuk seharga 20 ribu rupiah dan medan yang sulit bukan halangan bagi para wisatawan untuk menikmati keindahan. Terbukti pada bulan Maret 2014 tercatat sekitar 9000 pengunjung berkunjung ke air terjun Nyarai. Meski promosi obyek wisata ini hanya melalui media sosial dan dari mulut ke mulut namun terbukti mampu menarik minat masyarakat. Apalagi di kawasan yang asri ini terdapat pula tempat untuk berkemah dengan hanya membayar 40 ribu rupiah per orang

Tidak mengherankan jika pendapatan kotor obyek wisata Air Terjun Nyarai pernah mencapai 50 juta rupiah dalam sehari ketika dikunjungi lebih dari 2000 pengunjung. Pendapatan dari penjualan tiket masuk tersebut kemudian dibagi-bagi sesuai kebutuhan, ada yang diserahkan untuk masyarakat adat, ada yang dimanfaatkan untuk membenahi fasilitas termasuk merapikan jalur masuk dan membangun jembatan serta untuk komisi para pemandu wisata. Menariknya para pemandu wisata ini dahulunya adalah para pembalak liar. Ritno melakukan pendekatan persuasif dengan mengajak para pembalak liar menghentikan aksi pembalakan dan menawarkan pekerjaan sebagai pemandu wisata. Ritno tak segan memberikan pelatihan kepada masyarakat sekitar air terjun Nyarai agar mereka mampu bertindak secara profesional, mulai dari tata cara menerima dan memperlakukan wisatawan, memberikan arahan untuk berdagang makanan, minuman dan souvenir untuk dijual di sekitar tempat wisata serta melatih para pemandu wisata dengan kemampuan dan teknik berkomunikasi dengan baik. Tak kurang sejumlah 180 orang pemandu wisata yang terlatih siap menemani para wisatawan. 

Pemuda yang pernah menerima penghargaan Juara Pemuda Pelopor Sumatera Barat, Satu Indonesia Award Bidang Lingkungan tahun 2017 dan Tanda Kehormatan Satya Lencana Pariwisata tahun 2019 dari Presiden RI ini tidak berhenti dengan hasil karyanya. Ia secara berkesinambungan melakukan inovasi untuk mengangkat obyek wisata Air Terjun Nyarai tetap ramai dikunjungi wisatawan. Kini terdapat paket-paket wisata menarik yang dapat diikuti para pelancong seperti trip untuk mengamati burung langka kuau raja, atraksi menangkap ikan asli Lubuk Larangan untuk dilepas lagi dan berbagai atraksi menarik lainnya.


Sumber : IG Ritno Kurniawan

Untuk menjaga antusiasme wisatawan, Ritno juga membuat paket-paket wisata yang menarik. Beberapa di antaranya adalah atraksi menombak ikan, mengamati burung langka kuau raja (Argusianus argus Linnaeus), dan menangkap ikan asli Lubuk Larangan. ”Kami menangkap ikan hanya untuk mendapatkan sensasinya. Setelah ikan tertangkap, kami foto-foto, setelah itu ikan dilepas lagi,” katanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar