Rabu, 30 Mei 2018

Seminar Parenting, Wujud Kepedulian Morinaga dalam World Allergy Week 2018



Banyak diantara ibu-ibu termasuk aku yang masih belum paham atau buta tentang alergi ini. Tahun ini Morinaga kembali mengadakan program Parenting Seminar skala nasional sebagai program edukasi tahunan untuk meningkatkan pemahaman bunda akan alergi dan penyakit lainnya yang terkait dalam rangka World Allergy Week 2018, serta menggagas pelatihan dan sumber daya untuk melakukan diagnosa dan tindakan pencegahan.

World Allergy Week merupakan program tahunan inisiasi World Allergy Organization (WAO) dengan fokus topik dunia tahun 2018 ini adalah Dermatitis Atopik atau Eksim. Dermatitis Atopik merupakan penyakit radang kulit yang tidak menular dan bisa kambuh secara berkala, tapi juga bisa mencapai titik kronis. Umumnya, episode pertama terjadi sebelum Si Kecil berusia 1 tahun, yang selanjutnya bisa hilang dan timbul kembali. Prevalensi jenis kulit Dermatitis Atopik pada anak diperkirakan mencapai 10%-20%, sementara pada orang dewasa sekitar 1%-3%. 

Menurut Prof. Dr.dr.Zakiudin Munasir, Sp.A(K) guru besar bagian anak alergi dan immunologi dari RSCM/FKUI susu atau alergen susu sapi menjadi pencetus terbanyak alergi dengan kejadian 2 sampai 7.5%. Salah satu pencegahan alergi terhadap makanan bisa dilakukan dengan memperkenalkan berbagai jenis makanan sedini mungkin, memberikan ASI eksklusif, atau jika tidak memberi ASI eksklusif anak diberikan susu dengan protein terhidrolisat parsial. 

Waah jadi tahu banyak nih tentang alergi susu sapi nih. Selain alergi susu sapi beberapa hal yang bisa menjadi pencetus alergi adalah faktor lingkungan sebanyak 50 persen yaitu debu, rumput, serbuk bunga, dan jenis sabun atau detergen tertentu. Sementara 50 persennya terdiri dari makanan. Ada 8 makanan yang disebut sebagai big 8 yaitu susu, telur, ikan, udang, kacang tanah, kacang kedelai, gandum, dan kacang pohon seperti walnut, hazelnut, cashew dan pistachio. 

Firdan dan Alergi 

Beberapa waktu yang lalu aku dibikin kaget oleh badan Firdan yang muncul bentol - bentol merah di sekitar punggung dan tangan. Aku kira hanya gatal biasa. Selang sehari kemudian bentol-bentolnya tambah banyak dan mulai menjalar ke muka. Muka Firdan banyak bentol-bentol dan wajahnya menjadi bengkak.  Di usianya yang 21 bulan bulan ini baru kali ini badannya hampir bengkak gara-gara bentol. Dia pun mengeluh " atel Bu, atel Bu". Maksudnya badannya  gatal dan dia jadi rewel. Kasihan banget lihatnya.

pipi, tangan dan badannya bentol-bentol merah


Awalnya aku bingung kok dia bisa gatal-gatal bentol merah kayak gitu ya. Seorang teman bilang jangan-jangan Firdan kena ulat bulu. Tapi dia nggak main ke mana-mana kok. Baru aku ingat kalau dua hari sebelumnya Firdan makan banyak lobster. Ternyata anakku alergi makanan laut. Selama ini aku nggak 'ngeh" kalau dia alergi. Makan ayam, telur dan ikan dia baik-baik saja. Pas makan lobster baru deh gatal. Ternyata dia mewarisi bakat alergi dariku. Aku memang alergi makanan laut. Biasanya kalau makan makanan laut badanku gatal-gatal. Tapi nggak pakai bentol-bentol dan muka bengkak kayak Firdan. 

Dari ketiga anakku hanya Firdan yang mewarisi bakat alergi dariku. Kedua kakaknya tidak mewarisi bakat alergi dariku. Jadi kaget banget pas Firdan alergi. Pas aku cek di www.cekalergi.com ternyata jika salah satu orang tua ada bakat alergi maka persentase anak kena alergy adalah 20-40 persen. 

sumber:www.cekalergi.com

Kita tidak boleh menganggap masalah sepele alergi. Karena bisa jadi berawal dari alergi ringan akan tumbuh berbagai macam penyakit lanjutan. Lagi pula alergi berbahaya karena bisa menghambat prestasi anak. Oleh karena itu kita harus mendeteksi alergi sejak dini. Firdan beruntung karena dia ketahuan alergi di usia 20 bulan. Jadi aku tahu bagaimana cara penanganannya. 
Beberapa ciri yang menunjukkan anak alergi bisa dilihat di bawah ini :  
  1. Gangguan pada kulit, yang ditunjukkan dengan gejala gatal atau ruam pada kulit, eksim, bentol-bentol kemerahan pada pipi, telinga, tangan, kaki, dan area kulit lainnya. Ciri ini ada pada Firdan. 
  2. Gangguan pernapasan, umumnya ditunjukkan dengan gejala bersih-bersin, mengi atau napas berbunyi, tenggorokan gatal, dan lain-lain.
  3. Gangguan percernaan, umumnya berupa gejala mual, muntah, diare, dan masih banyak lagi.
Morinaga Allergy Week 2018

Sebagai wujud kepedulian PT. Kalbe Nutritionals, maka Morinaga menyelenggarakan seminar parenting tentang alergi di banyak rumah sakit di lima kota besar di Indonesia. Seperti kita ketahui banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang fakta alergi. Seminar ini membahas tentang alergi, penyakit lainnya yang berhubungan dan pencegahan serta penanganan alergi. 

Selain itu wujud kepedulian Morinaga ditunjukkan dengan melengkapi fitur pada www.cekalergi.com dengan konsultasi dengan dokter untuk melengkapi fitur yang sudah ada sebelumnya tentang resiko alergi dan fakta-fakta tentang alergi.

Faktor-Faktor penyebab alergi :
1. Genetik
Anak mendapatkan nak mendapatkan ’bakat’ alergi yang diturunkan dari orangtuanya. Anak yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat alergi, memiliki peluang mengalami alergi lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak. Bisa dilihat di tabel resiko alergi di paragraf atas. 

2. Faktor lingkungan
Dalam keadaan normal, sistem kekebalan tubuh akan bereaksi jika terdapat ’ancaman’ dari luar. Ketika ’ancaman’ berupa bakteri atau virus menyerang, sistem kekebalan akan melindungi tubuh dengan cara menghasilkan antibodi. Dalam keadaan alergi, sistem kekebalan tubuh salah mengenali bahan yang sesungguhnya tidak berbahaya sebagai suatu ’ancaman’ sehingga menimbulkan reaksi alergi. Bahan tersebut dikenal dengan istilah alergen. Alergen bisa berasal dari makanan, debu/serbuk tanaman/ bulu hewan/jamur, lateks, sengatan serangga atau obat-obatan.

Perjalanan Penyakit Alergi

Alergi bisa muncul dalam suatu rangkaian yang disebut allergic march , yang umumnya berawal pada masa kanak-kanak. Allergic march terdiri dari beberapa reaksi, seperti alergi makanan, eksim atau dermatitis atopik, asma dan rinitis alergi.

Alergi makanan dan dermatitis atopik sangat khas muncul pada awal kehidupan, yaitu pada usia 3-12 bulan. Memasuki usia pra-sekolah, eksim dan alergi makanan (susu, soya, telur) cenderung akan membaik dan menghilang. Asma dan rinitis alergi akan muncul pada usia 3-4 tahun dan berlanjut sampai usia sekolah. Rinitis alergi dan alergi makanan lainnya akan berlanjut sampai dewasa. Demikian juga dengan asma karena alergi. 

sumber : www.cekalergi.com

Alergi Susu Sapi
Selain makanan, ada juga beberapa anak yang alergi terhadap susu sapi. Dua diantara tiga anak Bapak Jakfar misalnya. Bapak Jakfar ini saudara suamiku. Dua diantara anaknya alergi susu sapi dan tidak bisa mengkonsumsi susu sapi. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang alergi susu sapi ini bisa kita lihat melalui gambar di bawah ini.
Gejala alergi (www.cekalergi.com)

Tindakan Pencegahan 
Tindakan pencegahan dapat dilakukan sebelum alergi muncul. Tindakan pencegahan ini adalah sebagai berikut : 
  • ASI eksklusif selama 6 bulan pertama
  • Hindari paparan asap rokok selama hamil dan setelah bayi lahir
  • Selama hamil dan menyusui, ibu tidak menghindari makanan yang sering menimbulkan alergi seperti telur, kacang-kacangan, ikan, dan makanan laut serta susu sapi
  • Pengenalan makanan padat untuk anak dimulai pada usia 6 bulan
  • Tidak ada penundaan pemeberian telur, kacang, ikan dan makanan laut serta jenis makanan lainnya pada waktu Si Kecil mulai mendapat pengenalan makanan padat
  • Pemberian susu formula Protein Terhidrolisat Parsial (P-HP) dan Protein Terhidrolisat Penuh untik bayi-bayi yang tidak bisa mendapatkan ASI
Untuk bayi yang alergi terhadap susu sapi bisa diberikan formula hidrolisat penuh, formula asam amino, atau formula isolat protein kedelai (soya)

Chilkid Soya Sebagai Solusi Terbaik Alergi

Saat ini usia Firdan 21 bulan dan masih ASI. Meskipun dia alergi makanan laut namun aku belum tahu apakah Firdan juga alergi susu sapi karena aku belum pernah memberinya susu formula. Karena aku sudah belajar banyak dari Morinaga  sekarang aku menjadi lebih tenang. Jika usianya nanti 2 tahun dan ternyata dia alergi susu sapi, aku tinggal memberinya Chilkid Soya karena menurut survey 9 dari 10 ibu memilih  Chilkid Soya sebagai solusi terbaik alergi. 



Morinaga Chilkid Soya adalah formula untuk anak usia 1-3 tahun yang intoleransi terhadap laktosa, intoleransi terhadap protein susu sapi dan menderita galaktosemia. Seratus persen soya dengan Dengan kualitas protein setara susu sapi, diperkaya L-Metionin, Karnitin, Asam Amino Esensial, serta Vitamin dan Mineral.

Morinaga Chilkid Soya memberikan kecerdasan multi talenta, pertahanan tubuh ganda dan tumbuh kembang optimal. Ada dua macam produk Soya yaitu Chilkid Soya untuk usia 1-3 tahun dan Chilschool Soya untuk usia 3-12 tahun.  Jadi meskipun alergi  tetap bisa berprestasi karena didukung nutrisi yang baik. 

dokumen pribadi
Tentang Morinaga

Kalbe Nutritionals dan Morinaga Jepang telah membentuk kerja sama di tahun 1986 untuk memformulasi, memproduksi dan menjual produk Morinaga di Indonesia. Inovasi unggulan dari Morinaga yaitu formula platinum dengan sinergi nutrisi lengkap yaitu untuk kecerdasan multi talenta (brain care),  pertahanan tubuh ganda (body defense) dan tumbuh kembang optimal (body growth) untuk medukung tumbuh kembang anak-anak Indonesia menjadi generasi platinum. 




  Faceboook : Morinaga Platinum 
• Instagram : @Morinagaplatinum 
• Twitter : @MorinagaID 
• Youtube : MorinagaPlatinum
sumber : 
www.cekalergi.com
www.morinagaplatinum.com

1 komentar:

  1. Waah meskipun alergi bisa tetap berprestasi ya. Minum Morinaga Chilkid Soya.

    BalasHapus