Kisah Inspiratif Penjual Kerupuk Tuna Netra

Inspirasi tidak harus datang dari orang yang sukses. Inspirasi juga tidak harus datang dari orang yang terkenal. Inspirasi bisa datang dari siapa saja dan dimana saja.Yaah..seperti inspirasi saya hari ini yaitu Bapak Haryono. Beliau adalah seorang pedagang kerupuk tuna netra keliling yang menjajakan kerupuk palembang di lingkungan perumahan saya. Beliau yang tuna netra total ini biasanya menjajakan kerupuknya bersama dengan istrinya yang juga tidak bisa melihat dengan jelas. Istri Pak Haryono ini mengalami katarak dan pernah dioperasi sebelah matanya. Berdua mereka menjajakan kerupuk keliling komplek. Terkadang kalau capek mereka mangkal di depan masjid atau di depan perumahan. Sudah tiga tahun beliau melakoni pekerjaan ini. Sebelumnya beliau menjadi tukang pijat tunanetra. Karena panggilan memijat sepi beliau beralih berdagang kerupuk.




Sungguh saya salut dengan beliau ini. Dari beliau saya belajar arti kerja keras, pantang menyerah dan tidak meminta. Di saat orang dengan keterbatasan fisik lainnya lebih memilih meminta-minta dan menjadi pengemis, beliau menunjukkan bahwa dengan keterbatasan fisik mereka mampu mandiri. Dengan tongkat, suami istri ini keliling komplek. Terkadang saya sering mengeluh capek dan mudah menyerah. Namun jika melihat pasangan ini, rasa capek pun langsung hilang. Pekerjaan rumah tangga saya belum ada apa-apanya jika dibandingkan lelahnya mereka berkeliling. Bahkan tiap Ramadhan pun di saat kaum dhuafa lain berpura-pura miskin dan menjadi pengemis dadakan mereka tetap berjualan kerupuk dengan segala keterbatasannya.


Suatu hari saya mengemukakan niat baik saya untuk mengganti dorongan kerupuk Bapak Haryono yang sudah aus.   Alhamdulilah mendapat respon positif dari beberapa teman. Dan kami bertiga pun iuran untuk mengganti  besi dorongan kerupuk ini. Saya segera ke tukang las dekat rumah, memesan dorongan kerupuk. Sebelumnya saya sudah menemui Pak Haryono dorongan seperti apa yang beliau inginkan. Dengan sedikit modifikasi dari dorongan lama akhirnya seminggu kemudian dorongan besi itu jadi. Tukang las mengantar dorongan yang sudah jadi ke rumah saya.

Ternyata bapak Haryono tidak berjualan selama beberapa hari. Jadi saya bingung mau mengantar dorongan besi ini kemana. Setelah bertanya ke sana kemari akhirnya saya bisa menemukan rumah Bapak Haryono. Sehabis  Magrib saya  sampai ke rumahnya yang ternyata terletak di kampung di dekat perumahan saya. Rumahnya gelap dan diterangi penerangan seadanya saat saya sampai kesana. Dan hal yang membuat haru adalah saat saya kesana Pak Haryono sedang membaca Al Quran dengan huruf braile. Tentu saja karena beliau tidak bisa melihat , beliau bisa membaca Al quran di dalam penerangan lampu yang temaram. Sontak saya menangis. Sungguh diri ini merasa malu. Dianugerahi mata yang sehat, namun tidak rajin membaca Al quran. Sementara beliau dengan segala keterbatasannya selalu berusaha berbuat yang terbaik. Bekerja keras untuk anak istrinya dan membaca Al Quran setiap hari sebagai bentuk penghambaannya kepada sang Maha Pencipta. Inspirasi tidak harus datang dari tokoh terkenal. Lihatlah sekeliling kita. Ada orang-orang yang menginspirasi kita dengan hal-hal yang dilakukannya seperti BApak Haryono yang tunanetra.






Komentar

  1. hebat masih mau berusaha ya walupun ada kekurangan

    BalasHapus
  2. Iya mbak Lidya..salut deh sama bapak Haryono ini.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer